Kamis, 08 Mei 2008

MEJA KAYU

Written by Ayah Edy

Tuesday, 08 May 2007
Suatu ketika, seorang kakek yang sudah sangat tua harus tinggal bersama dirumah anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan cucunya yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini sudah begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannyapun sudah sangat buram, dan berjalannyapun sudah tertatih-tatih. Keluarga ini biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang kakek yang sudah pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.

Suatu ketika, seorang kakek yang sudah sangat tua harus tinggal bersama dirumah anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan cucunya yang berusia

6 tahun. Tangan orangtua ini sudah begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannyapun sudah sangat buram, dan berjalannyapun sudah tertatih-tatih. Keluarga ini biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang kakek yang sudah pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan.

Sendok dan garpu kerap jatuh. Saat si orangtua ini meraih gelas, segera saja air yang ada didalamnya tumpah membasahi taplak meja makan.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. "Kita harus lakukan sesuatu, " ujar sang Istri. "Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk orang tua ini." Lalu, kedua suami-istri ini pun sepakat untuk membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan.

Karena sering memecahkan piring, anak dan menantunya juga sepakat untuk memberikan mangkuk kayu untuk si Kakek tua ini. Saat keluarga itu sibuk dengan makan malam, mereka sering mendengar isak tangis sang kakek dari sudut ruangan. Terlihat juga airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput mata si kakek tua itu. Akan tetapi, hal ini sama sekali tidak menyentuh hati anak dan manantunya, malah selalu saja, kata yang keluar dari anak dan menantunya ini adalah omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi.

Cucu si kakek tua yang baru berusia 6 tahun ini sering dibuat tertegun memandangi semua perlakuan orangtuanya. Sampai pada suatu malam, ayah sianak ini tanpa sengaja melihat anaknya yang sedang bermain dengan peralatan kayu.

Dengan lembut ditanyalah anak itu. " Sayang Kamu sedang membuat apa …?".

Lalu dengan lugunya anak ini menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu untuk makan ayah dan ibu nanti kelak kalo aku sudah besar.

Meja itu nanti akan kuletakkan di sudut sana, dekat tempat kakek biasa makan." Sambil tersenyum anak itu segera melanjutkan permainannya. Sungguh jawaban anak ini telah membuat kedua orangtuanya sangat terpukul. Suara mereka tiba-tiba berubah menjadi parau; Mulut mereka terkunci rapat; dan tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, perlahan-lahan airmatapun mulai menitik membasahi kedua pipi suami istri ini. Walau tak ada kata-kata yang terucap, tapi mereka kini benar-benar telah menyadari, ada sesuatu yang salah yang telah mereka lakukan pada orang tua mereka. Maka pada malam itu juga, mereka menuntun tangan orangtunya untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama dengan bahagia.

Para orang tua yang berbahagia dimanapun anda berada, anak-anak kita adalah cermin dari prilaku kita sehari-hari. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka adalah pembelajar yang luar biasa.

Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Begitu pula sebaliknya; jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan buruk hal itupulalah yang akan dia lakukan kelak saat dewasa. Mari, kita selalu mengevaluasi setiap kebiasaan dan prilaku kita sebagai tabungan berharga yang kita simpan dalam diri anak-anak kita, sebagai bekal kelak pada saat mereka dewasa.

Last Updated ( Tuesday, 08 May 2007 )

PERMEN

Written by Ayah Edy

Tuesday, 08 May 2007
Suatu hari ada seorang ibu membawa anaknya yang kira-kira berusia 4 tahun untuk menghadiri sebuah pesta ulang tahun temannya; pestanya berlangsung sangat meriah; namun si orang ibu ini terus mengkomplain anaknya yang katanya tidak berani tampil dan pemalu.

Setiap diadakan perlombaan selalu ia mendorong-dorong anaknya untuk ikutan; namun sianak tetap saja enggan untuk ikut. Kalapun terpaksa ikut anak ini kerap kali selalu kalah atau berada pada urutan terakhir dari perlombaan.



Si ibu yang penuh ambisi ini sepertinya merasa kecewa dengan tingkah laku anaknya yang demikian. Lalu dia menceritakan betapa hebatnya ia waktu masih seusia anaknya dulu. Ia bercerita bahwa dulu dirinya selalu berani mengikuti lomba; ia juga selalu menang dalam setiap perlombaan. Dia terus saja bercerita; dan terus membandingkan kehebatan dirinya dengan anaknya.

Sampai akhirnya pestapun usai; pada saat hendak pulang tiba-tiba si tuan rumah menghampirinya….Hallo sayang.... terima kasih ya telah hadir diacara kami.... oh iya.... ini sebelum pulang kamu boleh ambil permen ini ayo silahkan ambil; ambilah dengan kedua tanganmu agar kamu dapat banyak. Namun si anak diam saja sambil menatap pemen itu. Si orang tua mulai gusar dan meminta anaknya untuk mengambil permen dengan kedua tangannya; namun kembali si anak tetap diam sambil menatap permen-permen itu. Sampai akhirnya si tuan rumah mengambilkan permen itu dengan tangannya sendiri.

Sesampainya dirumah siorang tua kecewa dan mengeluh sambil mengomel; dia berkata begini; Dasar kamu ini ya...., Cuma diminta ambil permen saja kok ya tidak berani; mau jadi apa kamu nanti; namun diluar dugaannya anaknya tiba-tiba menjawab; aku bukan tidak berani mengambil mami tapi aku ingin mendapatkan permannya lebih banyak; tangankukan kecil sedangkan tangan Tante tadikan jauh lebih besar; jadi aku tunggu saja biar dia yang mengambilkan untukku.

Begitulah kita para orang tua sering kali menghakimi anak kita dengan asumsi dan presepsi-presepsi kita yang sering kali sangat dangkal, padahal dibalik semua prilaku anak kita sering kali terdapat alasan yang luar biasa hebat dan kritisnya yang terkadang membuat kita berdecak kagum; Kok bisa ya anak sekecil ini berpikir sekritis itu......

Mari kita berhenti untuk menghakimi anak-anak kita...; melainkan tanyalah mengapa mereka melakukan ini atau melakukan itu.... kelak anda akan dibuat terkagum-kagum oleh jawaban si kecil anda...

ANAK BERMASALAH

Written by Ayah Edy

Friday, 11 May 2007
Dalam profesi saya sebagai seorang konsultan pendidikan anak, saya sering dibuat bingung oleh keluhan orang tua terhadap anaknya yang dikatakan bermasalah;



Satu hari datang orang tua yang mengeluh yang katanya anaknya keras, sulit diberitahu dan sering membantah. Kemaunya luar biasa keras dan ingin selalu dituruti dan anak ini luar biasa PD-nya, bahkan cenderung over PD bagitu kata orang tuanya mengeluh..



Namun suatu kali juga saya pernah kedatangan orang tua yang mengeluhkan anaknya katanya tidak punya kemauan, pendiriannya mudah goyah, mudah terpengaruh, kurang percaya diri, dan sangat pemalu. Sampai-sampai si ibu bingung harus bagaimana...? karena setiap kali ditanya jawabnya selalu terserah mama.... terserah mama dan terserah mama sajalah....

Ada lagi lainnya yang juga mengeluh karena anaknya tidak mau diam, selalu ingin bergerak kasana dan kesini, tidak bisa duduk tenang maunya lompat dan bermain terus sepanjang hari....sampai-sampai mamanya merasa malu dengan para tetangganya.

Sebaliknya ada pula yang datang mengeluhkan anaknya yang katanya terlalu pasif, lebih banyak diam, menyendiri dan jarang sekali bicara. Kurang komunikatif dan hampir tidak memiliki energi hidup...

Para orang tua ini sama-sama beragapan bahwa anaknya bermasalah; Coba kita amati lebih jeli lagi; Orang tua yang dikarunia anak yang berpendirian keras ingin anaknya lembut, Sementara orang tua yang dikarunai anak lembut ingin anaknya lebih punya pendirian yang keras.

Orang tua yang memiliki anak yang selalu bergerak ingin anaknya diam, sementara orang tua yang memiliki anak yang diam, dianggapnya pasif dan ingin anaknya lebih banyak bergerak........menurut anda kita atau anak kita yang sebenarnya lebih memerlukan terapi dalam hal ini...?

Anak yang berfikir dengan Otak Kanannya

Written by Ayah Edy

Tuesday, 25 September 2007
Anak yang berpikir dengan Otak Kanannya


Suatu hari saya membaca sebuah proses penyuluhan melalui media; terhadap orang tua yang mananyakan kelainan dan keterlambatan belajar anaknya yang ciri-cirinya persis seperti anak yang cenderung dominan menggunakan otak kanannya;
Saya begitu prihatin karena ternyata banyak pembimbing yang masih belum mengetahui permasalahan ini; dan bahkan cenderung untuk memberikan nasehat yang menurut saya mungkin malah membuat hati orang tuanya semakin gelisah dan khawatir...





Mari kita dengarkan cuplikan nasehat yang diberikannya;


Bila diperhatikan perkembangan motorik putra ibu sepertinya agak terlambat, berjalan diusia 1 tahun 10 bulan dan bicara baru lancar di usia 4 tahun, jika terkadang jawaban yang diberikan tidak sesuai topik pembicaraan mungkin saja benar bahwa tingkat kecerdasannya tergolong dibawah rata-rata namun saya belum bisa memastikan masuk kategori apa. Jika Sampai saat ini dia belum lancar membaca juga menulis dan lebih suka mengeja menunjukkan putra ibu memerlukan waktu yang lebih lama dari anak-anak yang kecerdasannya tergolong rata-rata atau di atas rata-rata. begitulah kira-kira cuplikan utamanya........

Sungguh ibu manapun akan merasa terpukul hatinya mendengarkan penjelasan yang semacam ini, begitulah sejak dulu hingga kini anak-anak kita telah dengan gampangnya di golong-golongkan, menjadi anak diatas rata-rata, Rata-rata dan dibawah rata-rata. Peristiwa di zaman Thomas Alva Edison terulang kembali di zaman ini....

Sementara menurut Laurie Parson dan Jeffrey Fred seorang terapis untuk anak dengan gejala semacam ini justru menemukan hal yang berbeda sama sekali. Begini katanya;

Setiap keterlambatan proses perkembangan motorik anak umumnya lebih disebabkan oleh dua hal; yang pertama pola asuh orang tua yang kurang memberikan kebebasan pada anaknya untuk melakukan aktivitas yang bervariasi dan yang kedua karena tipe belajarnya visual jadi sama sekali tidak ada kaitan dengan kecerdasan. Bahkan sering terjadi keterlambatan di motorik ini diimbangi oleh kekuatan berpikir di otak kanannya yang luar biasa.

Sedangkan kemampuan bicara yang terlambat, tidak lancar dan menjawab tidak sesuai dengan topiknya, itu lebih cocok dengan ciri-ciri anak yang berpikir dengan otak kanannya; dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan kecerdasannya. Pelajarilah kembali hasil temuan Bruce Perry mengenai perbedaan cara bekerja otak kiri dan otak kanan anak kita

Semua keterlambatan yang terjadi pada anak otak kanan lebih disebabkan pada pola belajarnya yang berbeda dengan anak otak kiri. Dalam belajar, anak otak kanan perlu merekam dahulu sebelum melakukan eksekusi persoalan, dan proses perekaman itu pada tahap awal memerlukan waktu sekitar 10 detik dan jika sudah terbiasa waktunya hanya 1 atau 2 detik saja, sementara anak dengan dominan otak kiri langsung mengeksekusi baru kemudian merekam.

Ciri-ciri ini pernah terjadi pada Albert Einstain dan Leonardo Da Vinci, bahkan sejarah pernah mencatat bahwa sampai usia dewasa Da Vinci masih sulit untuk menghapal Alphabet.

Mari kita belajar dari sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan yang begitu pesatnya, agar kita tidak melakukan kesalahan yang mungkin akan berakibat fatal bagi anak-anak kita.







Last Updated ( Tuesday, 25 September 2007 )

BERMAIN ADALAH BELAJAR

Written by Ayah Edy

Friday, 10 August 2007
Suatu hari datang seorang ibu berkonsultasi kepada saya meminta untuk dipilihkan sekolah yang cocok untuk anaknya.... Lalu saya merekomendasikan salah satu sekolah yang telah menjalankan konsep-konsep yang saya sampaikan.


Namun minggu depannya ibu yang sama tadi datang lagi...; kali ini dia komentar begini; Ayah....yang benar saja anak saya kok direkomendasikan sekolah disana...? Saya kaget; memangnya ada apa bu.....? Itu lho....lah wong gedungnya itu jelek banget dan ditengah kampung; malah masih lebih bagus SD Impres. Lalu saya jelaskan panjang lebar dengan kesimpulannya kira-kira seperti ini; Sesungguhnya hanya orang tualah yang menilai bagusnya sekolah dari bagus gedungnya; tapi anak kita justru lebih mementingkan guru-guru dan cara belajarnya, apakah guru-gurunya tulus dan benar-benar mencintai anak; dan apakah proses belajarnya sesuai dengan kodrat penciptaan mereka. Saya katakan padanya; jika ibu tidak keberatan ibu coba dulu program try outnya jika anak ibu cocok sebaiknya memang ia bersekolah disana.

1 bulan kemudian ibu yang sama tadi datang lagi kepada saya; kali ini ia kelihatan begitu gelisah; Ibu itu berkata seperti ini.... Ayah..... saya bingung mengapa anak saya kalo saya tanya tadi belajar apa....?, jawabannya selalu katanya tadi ia asyik bermain ini dan bermain itu....? Lalu bagaimana ini; apa gak berbahaya....? Ayah gak sedang bercanda kan ya...? katanya serius.

Sambil tersenyum saya berkata; saya serius ibu saya sama sekali tidak bercanda; Sesungguhnya cara belajar yang terbaik bagi anak adalah sambil bermain; guru-guru disana memang saya minta untuk membahasakan belajar itu dengan bermain, karena sudah banyak anak-anak yang trauma dengan Kata Belajar. Dengan demikian setiap anak-anak akan selalu antusias pergi kesekolah karena dibenaknya mereka akan bermain bersama teman-temanya.

Nah disinilah tugas beratnya bagi para guru-guru disana; bagaimana ia bisa menyisipkan mata pelajaran dalam setiap permainan-permainan yang dibuatnya. Sehingga sianak sama sekali tidak sadar jika sesungguhnya mereka sedang belajar; dan dengan cara ini sianak tidak hanya happy, melainkan juga bisa menyerap pelajaran hingga di atas 90%; ya karena hati mereka senang. Coba perhatikan apakah setiap pagi anak ibu antusias bangun...? ya jawabnya. Tidak pernah alasan pusing-pusing atau sakit perut....ya jawabnya lagi... dan masih tetap antusias setelah pulang sekolah....? Ya betul....bahkan ia sering menceritakan para gurunya dan apa yang dipelajarinya tadi.... Nah kata saya lagi ...itulah sesungguhnya ciri-ciri sekolah yang baik dan cocok untuk anak ibu....

Lalu saya tanya lagi....? coba bandingkan dengan kakaknya yang bersekolah ditempat lain.... apakah di pagi hari ia sering sulit dibangunkan untuk sekolah...? ya kadang-kadang, apakah ia sering mengeluh sakit pada saat mau ada ulangan disekolah...? Ya itu kalo yang itu sering. Bagaimana setelah pulang sekolah....? ya biasanya dia langsung masuk kamar dan gak pernah mau cerita apa-apa... kata si ibu lagi. Coba ibu pikirkan kira-kira apa sebabnya....? Dapatkah anak yang stress setiap hari bisa belajar dengan baik....? si Ibu tadi terdiam, kelihatannya merenung....., ya saya hanya barharap agar ibu tadi dapat berpikir dan mengambil keputusan yang tepat bagi anaknya.

Last Updated ( Friday, 10 August 2007 )

Selasa, 06 Mei 2008

Belajar Mengenai Riset

Ide dan Artikel
Written by Aar
Friday, 18 April 2008
Riset itu bukan sebuah hal yang menakutkan dan menyeramkan. Anak-anak dapat belajar mengenai riset dengan cara yang menyenangkan.Anak-anak dapat belajar mengamati, mencatat hasil pengamatan, mengklasifikan, dan kemudian membuat cerita tentang hasil pengamatannya.Obyek yang diambil bisa sangat beragam, yang penting anak-anak suka dan menikmati aktivitasnya. Berikut ini beberapa contoh aktivitas yang dapat digunakan untuk melatih anak-anak melakukan penelitian.a. Meneliti isi lemari; mengelompokkan baju (jenis, warna, pemilik, dsb), menghitung jumlahnya, dan menceritakan mengenai baju-baju yang ada di lemari.b. Meneliti laci mainan: apa saja isinya, dikelompokkan (baik/rusak, jenis, dll), menghitung jumlahnya, dan menceritakan mengenai mainan. Bisa dilanjutnya dengan apa yang mau dilakukan terhadap mainan: mana yang disimpan dan mana yang dikeluarkan/dibuang/diberikan kepada orang lain.c. Meneliti isi rumah: berapa jumlah jendela, pintu, meja, kursi; belajar membuat deskripsi mengenai benda-benda yang diamati.d. Mengamati orang/anggota keluarga: rambut, jenis kelamin, bentuk wajah, tinggi, kebiasaan, kacamata, dan sebagainya.e. Banyak lagi yang lain; misalnya daun di halaman, bentuk-bentuk benda di rumah (shapes), Kegiatan-kegiatan itu kelihatannya sederhana. Idenya adalah memanfaatkan apa-apa yang ada di sekitar rumah kita. Tapi, sebenarnya banyak aspek riset yang sudah terkandung di dalamnya. Untuk tidak terbebani dengan kerumitannya karena mereka merasa sedang bermain dan bersenang-senang. Padahal mereka sedang belajar "riset" lho...Have fun...anak-anak yang agak besar, buat tabel dan minta anak untuk belajar mengisi tabel tentang apa-apa yang sedang diamatinya.Melalui kegiatan ini, anak

Minggu, 04 Mei 2008

Komunitas Sekolah-rumah Sebuah Model Pemenuhan Hak atas Pendidikan

Rabu, 02 Mei 2007

Yanti Sriyulianti
Memindahkan anak-anak dari sekolah secara permanen menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggara homeschooling alias sekolah-rumah. Bagi masyarakat kita, ijazah masih menjadi satu-satunya modal untuk meningkatkan taraf hidup. Apalagi dalam beberapa tahun terakhir ini sumber daya sekolah di Indonesia diarahkan untuk selembar ijazah yang diperoleh dengan sistem penilaian sesaat untuk menentukan kelulusan.
Belajar tiga tahun di sekolah menengah seolah tidak berarti apa pun dalam menentukan kelulusan dari sekolah. Akibatnya, guru-guru, sekolah, bahkan dinas terkait mengarahkan anak-anak untuk mengejar nilai akhir. Jika demikian halnya, apa jadinya anak-anak bangsa di masa depan?
Sejatinya, pemenuhan hak atas pendidikan menjadi komitmen pemerintah. Demikian juga dengan upaya penyatuan berbagai komitmen global untuk mencapai pendidikan untuk semua (education for all). Kerangka Kerja Aksi Dakar mempertegas bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia (HAM) dan telah menekankan pentingnya komitmen pemerintah untuk mewujudkan pendidikan berbasis HAM yang diimplementasikan untuk semua pada lingkup negara.
Menurut Katarina Tomasevski dalam buku Pendidikan Berbasis Hak Asasi, agar pendidikan dapat disediakan (available) pemerintah perlu menjamin pendidikan tanpa biaya dan wajib belajar bagi semua anak. Pemerintah juga dituntut menghargai kebebasan para orangtua untuk memilihkan anak-anaknya dalam memperoleh pendidikan berkualitas.
Agar pendidikan dapat dijangkau (accessible), penghapusan diskriminasi sebagai mandat dari undang-undang HAM internasional perlu menjadi prioritas kebijakan pendidikan. Agar pendidikan dapat diterima (acceptable), hak-hak manusia seyogianya diterapkan dalam proses pembelajaran. Agar pendidikan dapat disesuaikan (adaptable), pendidikan perlu menyesuaikan minat utama setiap individu anak.
Di tengah keengganan pemerintah untuk mendengar amanat hati nurani warga negara terkait dengan korban UN 2006 dan memenuhi amanat UUD 1945 dan UU Sisdiknas mengenai anggaran 20 persen dari APBN dan APBD, ada secercah harapan dengan adanya pengakuan Direktorat Kesetaraan Ditjen PLS Depdiknas terhadap komunitas sekolah-rumah.
Pendidik terbaik
Apakah saya dapat menjadi pendidik? Hampir semua orangtua akan bertanya seperti ini ketika memutuskan untuk memilih sekolah-rumah sebagai model pendidikan bagi anak-anak. Apakah mungkin bagi orangtua untuk beralih fungsi menjadi guru bagi anak? Bukankah perlu waktu bertahun-tahun untuk memenuhi kualifikasi guru?
Jawabannya adalah "ya". Namun, belajar di sekolah sangat berbeda daripada belajar di sekolah-rumah. Pengelompokan anak-anak sebaya dengan minat dan kemampuan yang berbeda selama 6-7 jam sehari dalam satu ruang kelas pasti memerlukan profesional yang sejahtera.
Bagi anak, mengembangkan potensi secara aktif berarti melestarikan pengetahuan, penguasaan, dan kebajikan dengan pengalaman belajar yang menyenangkan dalam bimbingan pendidik terbaik. Homeschooling atau sekolah-rumah tidak menuntut orangtua menjadi guru layaknya guru dalam ruang kelas. Cukup dengan mendorong anak untuk menumbuhkan pengalaman belajar dalam balutan cinta, kasih sayang, dan kehangatan keluarga. Keberhasilan sekolah-rumah sebenarnya sudah dimulai ketika orangtua menyadari bahwa tiap anak adalah sebaik-baiknya ciptaan Tuhan.
Pengalaman belajar kami sebagai orangtua diperoleh ketika Zakky (11), anak kami, disiapkan untuk sekolah-rumah sejak Oktober 2005 dan berhenti dari sebuah sekolah alternatif di Jakarta. Sebelumnya, Zakky mendapatkan model pendidikan anak merdeka dari kelas I sampai IV di SD Hikmah Teladan Cimahi. Tujuh bulan lamanya masa transisi dari sekolah ke sekolah-rumah kami lalui dengan membaca sejarah penemu dan ciptaannya serta melatih cara berpikir kritis, peduli, dan kreatif untuk menjalankan kembali pendidikan anak merdeka.
Sejarah merupakan gerbang yang membuka cara berpikir dan imajinasi jauh melebihi dataran, waktu, dan peradaban manusia. Cerita atau dongeng sejarah membantu anak-anak memahami bagaimana orang- orang pada waktu dan tempat yang berbeda, bagaimana perbedaan karakteristik masyarakat dan peradaban manusia berubah dan bagaimana mereka bisa bersama-sama menghasilkan karya- karya terbaik yang tak lekang oleh zaman. Cerita-cerita terpilih seperti kisah para nabi, biografi penemu-penemu ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sejarah bangsa-bangsa mendorong motivasi berprestasi, cara menyikapi kegagalan dan kajian untuk bertahan hidup.
Cerita Fitry (15) tentang mitologi dari negara Skandinavia mengenai penciptaan dunia manusia yang diperolehnya saat menelusuri referensi tentang gerhana matahari, atau antusiasme Zakky menggali referensi tentang sejarah penciptaan alam semesta setelah keluar dari planetarium, menyadarkan saya akan waktu-waktu berharga untuk tumbuh bersama anak-anak yang sudah lama hilang. Anak- anak pada dasarnya telah jadi pendidik terbaik.
Awalnya, kami memfasilitasi pembelajaran Zakky dalam bentuk menyediakan guru dari SD Hikmah Teladan dan mengajak keluarga penggiat sekolah-rumah lainnya untuk bergabung. Setelah mencari informasi dari beragam sumber, kami memutuskan untuk membuka komunitas sekolah-rumah dengan menguatkan partisipasi anak dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
Pengajaran harus ditujukan ke arah perkembangan pribadi yang seluas-luasnya serta memperkokoh rasa penghargaan terhadap hak-hak manusia dan kebebasan asasi. Pengajaran harus mempertinggi saling pengertian, rasa saling menerima, serta rasa persahabatan di antara semua bangsa, golongan-golongan kebangsaan atau golongan penganut agama, serta harus memajukan kegiatan-kegiatan PBB dalam memelihara perdamaian.
Dalam konteks ini, komunitas sekolah-rumah sebagai model pendidikan kesetaraan yang diakui pemerintah ditantang untuk bisa menjamin perlindungan anak agar tidak menyalahi prinsip penyelenggaraan yang diamanatkan UU Sisdiknas maupun praktik indoktrinasi yang mengarah pada fanatisme.
Modal belajar
Penyelenggara sekolah-rumah tidak perlu berlelah-lelah dengan batasan kurikulum dalam sebuah kelas yang disibukkan oleh 24 anak, bahkan lebih. Ketika hambatan terhadap penghargaan ditiadakan, minat dan kemampuan anak terus digali serta tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, maka budaya belajar jadi niscaya.
Masalahnya, belum banyak orangtua yang yakin dapat mempraktikkan hal ini. Seminar, lokakarya, dan pelatihan parenting mungkin dapat membantu. Tapi, ini belum lengkap tanpa pendampingan program belajar keluarga.
Menghadirkan fasilitator yang berpengalaman dalam mengimplementasikan pendidikan anak merdeka dalam Forum OK! (Obrolan Keluarga) ternyata dapat memperkuat komunitas sekolah-rumah.
Setiap keluarga penyelenggara sekolah-rumah dapat berbagi pengalaman belajar sambil mendiskusikan perkembangan anak- anak dalam suasana yang penuh kekeluargaan. Bahkan, kini sudah ada asosiasi sekolah-rumah dan pendidikan alternatif yang diharapkan dapat menjadi badan amanah bagi komunitas sekolah-rumah dan pendidikan alternatif di Indonesia.
Seluruhnya menjadi modal belajar yang sangat berarti bagi komunitas sekolah-rumah. Apalagi jika komitmen pemerintah dan pemerintah daerah untuk menyediakan anggaran yang memadai bagi pemenuhan hak atas pendidikan berkualitas dan bebas biaya tidak hanya bagi anak-anak sekolah, tetapi juga bagi pelaksana sekolah-rumah dan pendidikan alternatif segera direalisasikan.
Yanti Sriyulianti Praktisi Pendidikan dan Penggerak Sekolah-Rumah